Malam Itu…

“Jongkok!” bentaknya.

Kulakukan yang ia minta.

“Apaan tuh?” katanya menunjuk gumpalan yang ada di dalam kantung kiri celanaku.

Aku langsung bertindak. Kuterjang dia, kutangkap kakinya dan kutarik. Ia terjengkang, kepalanya membentur aspal.

Aku tak mau ambil resiko. Masih memegang kedua kakinya, aku berputar. Kukangkangi tubuh keparat itu. Kuhempaskan beratku ke belakang dan tubuhnya berderak, berkelojotan, kemudian diam.

Sekuat tenaga kuayun tubuhnya dan kulemparkan ke arah empat orang temannya. Lalu aku kabur dan melompat masuk ke dalam angkot terdekat sambil tertawa. Puas. Biar tahu rasa mere—

“Jangan cuma bengong! Keluarin!” bentaknya lagi. Empat orang temannya merapat.

Malam itu aku kehilangan penyerantaku…

*originally written in October 2004 for 100Words blog*

Aside | Posted on by | Tagged | Leave a comment

Boleh Aku Berdiri Di Sebelahmu?

Saat aku hendak melompat pintu terkuak dan kulihat dari sudut mataku seseorang masuk. Kemudian dengan suara datar ia membujukku untuk menjauh dari ambang jendela.

Aku menggeleng.

“Lihatlah di lantai bawahku, Jenny sedang dipukuli lagi oleh pacarnya, di bawah lagi Maya dengan putus asa memandangi foto suaminya yang hilang tanpa bekas, si tua Dono menatap jalan mengharapkan anaknya akhirnya bebas dan pulang, orangtua Gilang hanya dapat menahan napas melihat anaknya sakaw. Saat aku terkapar di jalan itu, masalah mereka akan terlupakan sejenak dan hidupku akan menjadi lebih bermakna…” ujarku.

Kulihat ekspresinya berubah.

“Boleh aku berdiri di sebelahmu?” tanyanya dengan suara lirih.

 

*originally written in February 2005 for 100Words blog*

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Analogi

Bukankah memerintah suatu negara bisa diibaratkan dengan menjaga kondisi fisik tubuh?

Kurangi yang manis-manis agar lemak tidak menumpuk dan badan tetap ramping agar bisa dengan tangkas mengejar ketertinggalan.

Dan tentu saja, radikal bebas harus dibelenggu…

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Tuhan

Tuhan itu satu.

Dan Dia membiarkan manusia menyembah-Nya dengan cara yang berbeda-beda untuk menunjukkan bahwa Dia menyukai keberagaman.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kucing

Mengarang adalah tipe pekerjaan rumah yang paling dibenci Ali, 10 tahun. Menyusun kata-kata menjadi kalimat-kalimat yang membentuk paragraf-paragraf bukan keahliannya. Mending main layangan, demikian pikirnya.

Kali ini pun demikian. Dua jam dia berkutat di hadapan buku pekerjaan rumah dan yang tertulis hanya:

“Kucing adalah hewan yang”

Klontang!

Suara dari dapur membuyarkan lamunannya. Ia meluncur ke sana dan mendapatkan satu-satunya ikan goreng telah hilang dari meja makan. Pelakunya terlihat berkelebat ke samping rumah. Ali mengejar.

Lima menit kemudian ia kembali dengan tangan kosong dan napas terengah-engah.

Ali kembali duduk, merobek halaman yang telah tertulis, lalu dengan geram menuliskan:

“Kucing adalah ANJING!!”

Posted in Stories | Tagged , | Leave a comment

Stop. Laughing. At. Me.

Stop. Laughing. At. Me.

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Everything you …

Everything you know is wrong. Remember this.

Aside | Posted on by | Leave a comment