Boleh Aku Berdiri Di Sebelahmu?

Saat aku hendak melompat pintu terkuak dan kulihat dari sudut mataku seseorang masuk. Kemudian dengan suara datar ia membujukku untuk menjauh dari ambang jendela.

Aku menggeleng.

“Lihatlah di lantai bawahku, Jenny sedang dipukuli lagi oleh pacarnya, di bawah lagi Maya dengan putus asa memandangi foto suaminya yang hilang tanpa bekas, si tua Dono menatap jalan mengharapkan anaknya akhirnya bebas dan pulang, orangtua Gilang hanya dapat menahan napas melihat anaknya sakaw. Saat aku terkapar di jalan itu, masalah mereka akan terlupakan sejenak dan hidupku akan menjadi lebih bermakna…” ujarku.

Kulihat ekspresinya berubah.

“Boleh aku berdiri di sebelahmu?” tanyanya dengan suara lirih.

 

*originally written in February 2005 for 100Words blog*

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s