Deadline

Deadline beckons and, morosely, I followed.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Scar

You wanna know how I got this scar?

Well, my dad, bless his soul, was a very religious man, though how he treated me and my mom was far from any religious teaching.

He used to beat and even dunk us in the river to purge our sins, until one day he dunk frail old mom till she moved no more.

And then he began to…touch me.

And then I stopped believing.

One day he told me to pray and I just sneered and shrugged. In a fit of rage he grabbed his razor blade and widened my mouth so ‘you’ll grin and sneer until Armageddon comes!’ he said.

The next morning I left the house.

Around ten years ago I came back and opened my dear old dad a brand spanking new mouth under his chinny-chin-chin so he can speak to god more EFFECTIVELY!!

inspired by the movie The Dark Knight

Posted in Stories | Tagged | Leave a comment

Current Craze

Current Craze

Currently crazy about this Korean instant noodle. Add some kani sticks, wakame, a lightly beaten egg, and top it up with a slice of processed cheddar cheese.

Yum!

Posted in Food | Tagged , , | Leave a comment

The Decision

Alone in his cavern he sat staring at the apple before him, its shiny skin reflected the light of the fire. He sighed.

They came this morning. The Messenger, the Mother, the Lover and the Warmaiden.

He tried to decline, but the Messenger said Father Zeus would not hear of it. He suggested that the apple be divided into three equal portion and given to each of the wondrous woman, but was chastised for his suggestion.

He asked for more time and was given a night.

And tonight Paris made the decision. He ate the golden apple, core and all.

Posted in Stories | Tagged , | Leave a comment

Surti

Surti menghambur keluar kamar kos sambil membanting pintu kuat-kuat.

‘Lo tu emang laki-laki fakyu banget!!’ teriaknya menirukan umpatan yang sering ia dengar dalam film-film Hollywood.

Tawa keras membahana di dalam kamar.

Surti menendang pintu. Keras. Mengubah tawa di dalam menjadi bentakan kasar.

Takut, Surti balik badan dan berlari. Sejurus kemudian ia seperti teringat sesuatu dan menghentikan larinya sambil mengelus perutnya. Lalu ia terisak. Pedih.

‘Dia tidak mengakuimu, Nak’ bisiknya lirih saat ia menantikan angkot di pinggir jalan.

Di dalam angkot Surti kembali terisak.

Di benaknya masih terngiang ejekan Bajul. ‘Hey, Surtaman, yang bener aja,’ katanya, ‘mana mungkin banci bisa hamil?’

Posted in Stories | Tagged , | Leave a comment

Aku Pulang

“Sayang, aku pulang,” kataku sambil membuka pintu.

Tidak seperti biasanya, hanya lengang yang menyambutku. Tidak ada suara merdu yang membalas sapaanku, tidak ada langkah ringan yang mendekat.

Ah, mungkin ia sudah lelah tertidur menungguku, pikirku berusaha mengusir perasan was-was yang timbul. Pelan-pelan aku berjingkat menuju kamar, dan membuka pintu. Kosong. Perasaanku makin tidak nyaman.

Di ruang makan kutemukan sisa-sisa perkelahian. Pecahan piring dan gelas bertebaran di lantai dan meja makan. Lalu pandanganku tertumbuk pada sebuah tang dan sebuah paku panjang berlumur darah. Paku yang kukenal dengan sangat baik. “Sial! Lagi-lagi begini!” umpatku sambil bergegas keluar lewat pintu belakang langsung menuju pohon nangka di halaman belakang.

“Sayang,” bisikku. Gemerisik dedaunan di atas kepalaku menjawab panggilanku.

Aku menengadah dan menangkap sebersit kain putih berkelebat di antara ranting dan dedaunan. Aku menghela napas sambil memijit ruang di antara kedua mataku. Lelah.

“Sayang, turunlah.” Aku merasakan sepasang matanya memandangiku dengan ragu. Ia takut. Aku bisa merasakannya.

“Aku nggak marah kok,” bujukku, “aku cuma ingin tahu di mana kamu menyembunyikan mayat lelaki itu, Sayang.”

Dedaunan kembali bergemerisik. Ia mendekat.

“Kasihan kan, kalau dia tidak dikubur dengan baik? Lagi pula paku itu harus dipasang kembali ke ubun-ubun kamu, Sayang. Kamu masih ingin bersamaku kan?”

Ia turun di hadapanku. Cantik. Cantik sekali. Dengan pandangan yang masih menyiratkan amarah dan ketakutan.

“Kamu…kamu masih mencintaiku?” tanyanya. Suaranya dingin. Kosong. Namun menyiratkan keraguan. Ia selalu mengajukan pertanyaan yang sama setelah peristiwa semacam ini.

Aku menjawab dengan memeluknya. Erat. Tanpa memedulikan lubang di punggungnya yang pasti menyisakan noda di lengan kemejaku.

Air matanya menitik. Perlahan kubimbing ia menuju rumah.

“Maafkan aku,” bisiknya hampir tak terdengar. Aku mempererat rangkulanku.

“Nggak apa-apa. Bukan salahmu,” jawabku sambil mengecup pelipisnya.

written in 2010 for a flashfiction competition.

Posted in Stories | Tagged | Leave a comment

Tertidur

Tertidur

Setelah lelah berkeliling, ia tertidur di sisi jalan.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment